KajianIslam·Sunnah

Kisah Abu Mahdzurah, Muadzin Rasulullah di Masjidil Haram

Puji Ermanto
Puji Ermanto06 July 2019 · 6 mins read
Kisah Abu Mahdzurah, Muadzin Rasulullah di Masjidil Haram

بسم الله الرحمن الرحيم

Kisah Abu Mahdzurah, Muadzin Rasulullah ﷺ di Makkah

Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu merupakan salah seorang sahabat yang dikenal sebagai muadzin Rasulullah ﷺ di Makkah.

Namanya mungkin tidak sepopuler Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Namun, kisah Abu Mahdzurah memiliki tempat penting dalam pembahasan tentang adzan karena sejumlah riwayat mengenai tata cara adzan diriwayatkan langsung darinya.

Menariknya, perjalanan Abu Mahdzurah tidak bermula sebagai seorang muadzin.

Ia pernah berada di antara para pemuda yang mendengar adzan kaum muslimin. Kemudian Rasulullah ﷺ mendengar suaranya dan memanggilnya.

Dari pertemuan tersebut, Abu Mahdzurah kemudian mendapatkan pengajaran langsung mengenai tata cara adzan.

Kisahnya menunjukkan sebuah perubahan yang sangat besar: dari seorang pemuda Quraisy menjadi seseorang yang dipercaya mengumandangkan panggilan shalat di Makkah.


Siapa Abu Mahdzurah?

Abu Mahdzurah adalah kunyah seorang sahabat dari Quraisy yang kemudian dikenal sebagai muadzin di Makkah.

Dalam literatur terdapat perbedaan mengenai nama asli beliau. Karena itu, daripada memastikan satu nama sebagai satu-satunya pendapat, lebih aman menyebut beliau dengan nama yang paling masyhur dalam kitab-kitab hadis:

Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu.

Beliau meriwayatkan sejumlah hadis yang berkaitan dengan adzan dan iqamah.

Salah satu riwayat yang terkenal menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya tata cara adzan secara langsung.


Rasulullah ﷺ Mengajarkan Adzan kepada Abu Mahdzurah

Salah satu hal terpenting dari kisah Abu Mahdzurah adalah bahwa tata cara adzan yang beliau riwayatkan bukan sekadar kebiasaan yang berkembang kemudian.

Abu Mahdzurah sendiri meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya adzan.

Dalam salah satu riwayat disebutkan:

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya adzan dengan sembilan belas kalimat dan iqamah dengan tujuh belas kalimat.

Riwayat mengenai hal ini terdapat antara lain dalam:

  • Sunan Abi Dawud no. 502
  • Jami’ at-Tirmidzi no. 192
  • Sunan an-Nasa’i no. 630
  • Sunan Ibnu Majah no. 709

Riwayat-riwayat tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pembahasan fikih mengenai tata cara adzan.


Adzan Abu Mahdzurah dan Tarji’

Salah satu ciri yang terkenal dari riwayat Abu Mahdzurah adalah adanya tarji’ (الترجيع).

Apa itu tarji’ dalam adzan?

Secara sederhana, tarji’ adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dengan suara yang lebih rendah terlebih dahulu, kemudian mengulanginya kembali dengan suara yang lebih keras.

Urutannya secara ringkas menjadi:

  1. Takbir.
  2. Dua kalimat syahadat dengan suara lebih rendah.
  3. Dua kalimat syahadat diulang dengan suara lebih keras.
  4. Hayya ‘alash-shalah.
  5. Hayya ‘alal-falah.
  6. Takbir.
  7. La ilaha illallah.

Dengan susunan tersebut, terdapat riwayat yang menghitung lafaz adzan Abu Mahdzurah sebanyak 19 kalimat.


Hadis Adzan 19 Kalimat

Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:

Nabi ﷺ mengajarinya adzan sembilan belas kalimat dan iqamah tujuh belas kalimat.

Dalam riwayat tersebut, adzan dimulai dengan empat kali takbir, kemudian syahadat, pengulangan syahadat (tarji’), hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah, dua kali takbir, kemudian ditutup dengan kalimat tauhid.

Riwayat ini dapat ditemukan dalam beberapa kitab hadis, di antaranya Sunan Abi Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.

Karena itu, pembahasan mengenai adzan Abu Mahdzurah tidak hanya berkaitan dengan sejarah seorang muadzin, tetapi juga menjadi bagian dari pembahasan fikih mengenai sifat adzan.


Mengapa Ada Perbedaan Jumlah Lafaz Adzan?

Pembaca mungkin menemukan keterangan mengenai jumlah lafaz adzan yang berbeda dalam pembahasan fikih.

Salah satu penyebabnya adalah adanya beberapa riwayat mengenai tata cara adzan.

Dalam riwayat Abu Mahdzurah terdapat tarji’, yaitu pengulangan dua kalimat syahadat.

Karena pengulangan tersebut, jumlah lafaz yang dihitung menjadi lebih banyak.

Perbedaan tata cara yang bersumber dari riwayat-riwayat hadis inilah yang kemudian dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab fikih.

Karena itu, pembahasan ini sebaiknya tidak dipahami sekadar sebagai persoalan “mana yang benar dan mana yang salah”, tetapi sebagai bagian dari pembahasan ulama terhadap beberapa riwayat mengenai sifat adzan.


Adzan Subuh dan “Ash-Shalatu Khairum Minan Naum”

Dalam riwayat Abu Mahdzurah juga terdapat pembahasan mengenai tambahan lafaz pada adzan Subuh:

الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Ash-shalatu khairum minan naum.

Artinya:

“Shalat lebih baik daripada tidur.”

Lafaz tersebut dikenal sebagai tatswib dalam adzan Subuh.

Hal ini juga menunjukkan pentingnya riwayat Abu Mahdzurah dalam pembahasan mengenai tata cara adzan.


Abu Mahdzurah Menjadi Muadzin di Makkah

Setelah mendapatkan pengajaran dari Rasulullah ﷺ, Abu Mahdzurah dikenal sebagai muadzin di Makkah.

Inilah salah satu bagian yang menarik dari perjalanan hidup beliau.

Seseorang yang pada awal kisahnya belum dikenal sebagai penyeru kaum muslimin kemudian mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah ﷺ dan dipercaya menjalankan salah satu syiar Islam yang sangat dikenal: adzan.

Riwayat mengenai Abu Mahdzurah kemudian terus dipelajari oleh generasi setelahnya karena darinya terdapat penjelasan mengenai tata cara adzan.


Pelajaran dari Kisah Abu Mahdzurah

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita renungkan dari kisah Abu Mahdzurah.

1. Hidayah dapat mengubah seseorang

Keadaan seseorang hari ini tidak selalu menggambarkan bagaimana keadaannya di kemudian hari.

Kisah Abu Mahdzurah mengingatkan bahwa seseorang dapat berubah setelah mendapatkan hidayah dan bimbingan.

2. Rasulullah ﷺ mendidik manusia dengan hikmah

Pertemuan Abu Mahdzurah dengan Rasulullah ﷺ berakhir bukan sekadar dengan teguran.

Beliau justru mendapatkan pengajaran mengenai adzan dan kemudian dikenal sebagai muadzin.

3. Sunnah sampai kepada kita melalui para sahabat

Detail tata cara ibadah yang kita pelajari hari ini sampai kepada generasi berikutnya melalui riwayat para sahabat.

Abu Mahdzurah merupakan salah seorang sahabat yang meriwayatkan tata cara adzan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

4. Perbedaan riwayat perlu dipahami dengan ilmu

Dalam masalah fikih, terkadang terdapat lebih dari satu riwayat yang menjadi pembahasan para ulama.

Karena itu, perbedaan dalam beberapa rincian tata cara ibadah sebaiknya dipelajari melalui sumber hadis dan penjelasan ulama, bukan sekadar dipertentangkan.


Kesimpulan

Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang memiliki peran penting dalam sejarah adzan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya tata cara adzan, dan riwayatnya kemudian menjadi salah satu rujukan penting dalam pembahasan fikih mengenai adzan dan iqamah.

Salah satu riwayat yang paling dikenal darinya adalah adzan 19 kalimat dan iqamah 17 kalimat, termasuk adanya tarji’ pada dua kalimat syahadat.

Kisah Abu Mahdzurah juga memberikan pelajaran bahwa perjalanan seseorang dapat berubah sepenuhnya ketika Allah memberikan hidayah kepadanya.

Dari seorang pemuda Quraisy, Abu Mahdzurah kemudian dikenal dalam sejarah Islam sebagai salah seorang muadzin Rasulullah ﷺ di Makkah.

Wallahu a’lam.


Referensi Hadis

Beberapa riwayat yang dapat digunakan untuk mempelajari lebih lanjut tentang adzan Abu Mahdzurah:

  • Sunan Abi Dawud no. 502 — riwayat adzan 19 kalimat dan iqamah 17 kalimat.
  • Jami’ at-Tirmidzi no. 192 — riwayat Abu Mahdzurah mengenai adzan dan iqamah.
  • Sunan an-Nasa’i no. 630 — pembahasan jumlah lafaz adzan.
  • Sunan Ibnu Majah no. 709 — pembahasan tarji’ dalam adzan.

Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan yang pertama kali diterbitkan pada 2019. Pembaruan dilakukan untuk memperjelas struktur tulisan dan menambahkan rujukan hadis.

CodeSyariah dispatch

Dapatkan catatan berikutnya.

Ringkasan praktis seputar build, fix, dan deployment.
Puji Ermanto

Ditulis oleh

Puji Ermanto

Senior Engineer yang membangun dan merawat web application, API, ERP, serta workflow deployment. Saat ini aktif di Wangun Teknologi Bersama dan PT. Indiga Nusa Digitama (Tokoweb.co).
Lihat portfolio